TRENDING NOW

Kapolres Cilegon AKBP Dr. Martua Raja Taripar Laut Silitonga, S.H., S.I.K., M.Si., 


CILEGON, BX - Kapolres Cilegon AKBP Dr. Martua Raja Taripar Laut Silitonga, S.H., S.I.K., M.Si., menjagokan Tim Nasional (Timnas) Prancis sebagai kandidat kuat juara Piala Dunia 2026. Penilaian dan pernyataan tersebut disampaikan kepada BantenXpose.com, Senin (15/6/2026), di tengah meningkatnya antusiasme masyarakat menyambut perhelatan sepak bola terbesar di Piala Dunia. Selain memberikan prediksi, Kapolres juga mengajak masyarakat Cilegon menjaga ketertiban saat menggelar nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 saat ini.

Menurut AKBP Dr. Martua Raja Taripar Laut Silitonga, Prancis memiliki modal yang sangat kuat untuk mengangkat trofi Piala Dunia 2026. Selain itu ia juga menyoroti keberhasilan penyerang Timnas Prancis 'Kylian Mbappe'.

Ia menjelaskan, salah satu alasan utama adalah keberhasilan Kylian Mbappe Lottin di Piala Dunia 2022 ketika itu Prancis vs Argentina berhasil mengejar ketertinggalan sehingga menyamakan kedudukan dengan skor akhir 2-2, dan memaksa laga berlanjut kemudian berakhir adu penalti, ini menjadi indikator paling nyata.

"Penyerang Timnas Prancis yaitu Kylian Mbappe Lottin ini mempunyai mental juara dan chemistry tim lagi tinggi-tingginya,” ujarnya.

Selain faktor mental juara, Kapolres Cilegon menilai Prancis saat ini memiliki generasi emas baru yang dihuni para pemain muda bertalenta, tetapi telah memiliki pengalaman bertanding di level tertinggi.

Ia menyoroti seperti Kylian Mbappe Lottin dinilai menjadi kekuatan utama di sektor serangan berkat kecepatan dan kualitas yang telah dibuktikan ketika Piala Dunia 2022 kala itu.

“Untuk kilas balik pertandingan sengit di mana Timnas Prancis di Piala Dunia 2022 berhasil mengejar ketertinggalan dan memaksa laga berlanjut, berakhir adu penalti, skuad dalam tim dengan usia muda, tapi sudah banyak pengalaman. Dengan lini depan diisi Kylian Mbappe Lottin yang kecepatannya terbukti luar biasa,” tuturnya.

Tak hanya itu, kedalaman skuad Prancis juga menjadi alasan lain yang membuatnya optimistis. Menurutnya, hampir seluruh pemain yang dimiliki memiliki kualitas setara pemain inti.

“Tidak ada istilah pemain cadangan dalam timnas Prancis semuanya kelas dunia,” katanya.

Sementara itu, meningkatnya antusiasme masyarakat menyaksikan pertandingan Piala Dunia 2026 melalui kegiatan nobar juga menjadi perhatian jajaran Polres Cilegon di wilayah Polsek. AKBP Dr. Martua Raja Taripar Laut Silitonga, S.H., S.I.K., M.Si. mengimbau warga untuk tetap menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat.

Ia meminta penyelenggara maupun peserta nobar memperhatikan kenyamanan lingkungan sekitar, terutama terkait penggunaan pengeras suara hingga larut malam.

“Agar selalu menjaga ketertiban dan kenyamanan warga. Jaga volume suara apalagi kalau nobar kan sampai larut malam, dan imbauan Nobar Piala Dunia 2026 agar tetap aman dan kondusif,” pesannya.

Kapolres Cilegon juga mengingatkan pentingnya menjunjung tinggi sportivitas dalam mendukung tim favorit masing-masing.

“Junjung tinggi sportivitas dan persaudaraan tanpa rasisme, ujaran kebencian, atau ejek suporter lain. Beda tim favorit tapi tetap saudara,” tegasnya.

Selain itu, Kapolres mengajak masyarakat Cilegon untuk dipersilahkan nobar bersama dan bersifat umum juga terbuka lebar di Polres Cilegon dan jajaran Polsek wilayah hukum Cilegon, dan imbau untuk menjauhi minuman keras dan narkoba selama kegiatan nobar berlangsung.

“Tolak miras dan narkoba di area nobar. Nikmati pertandingan dengan kepala dingin,” katanya.

Usai pertandingan selesai, warga juga diimbau untuk membubarkan diri secara tertib dan menghindari konvoi berlebihan yang berpotensi memicu gangguan keamanan.

“Selesai nobar, langsung bubar tertib, hindari konvoi berlebihan agar tidak memicu gesekan,” imbuhnya.

AKBP Dr. Martua Raja Taripar Laut Silitonga, berharap momentum Piala Dunia 2026 dapat menjadi sarana mempererat persaudaraan antarwarga di Kota Cilegon, bukan justru memunculkan konflik akibat perbedaan dukungan terhadap tim tertentu.

“Mari jadikan Nobar Piala Dunia 2026 di Kota Cilegon, Banten sebagai ajang silaturahmi dan pemersatu warga. Dukung sportif, pulang dengan selamat,” pungkasnya.

Ia menambahkan, apabila masyarakat menemukan atau mengalami gangguan keamanan dan ketertiban selama pelaksanaan nobar, dapat segera menghubungi layanan darurat Polri melalui nomor 110 atau mendatangi Polsek terdekat.(Red)

 

                           Zaenal Abidin Syuja’i

 

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lahir dari sebuah niat yang pada dasarnya mulia, yakni meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia sebagai investasi sumber daya manusia masa depan.

Dalam perspektif pembangunan bangsa, tidak ada yang menolak pentingnya pemenuhan gizi bagi generasi muda. Anak yang sehat secara fisik tentu memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh, belajar, dan berprestasi.

Namun demikian berbagai persoalan yang muncul dalam implementasi MBG menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah program ini telah dirancang dengan perencanaan yang matang, tata kelola yang kuat, dan mempertimbangkan prioritas pembangunan nasional secara proporsional?

Di tengah keterbatasan fiskal negara, setiap rupiah anggaran publik semestinya diarahkan pada program yang memberikan dampak terbesar bagi kemajuan bangsa. Karena itu, diskusi mengenai MBG tidak boleh berhenti pada aspek populisme kebijakan, tetapi harus menyentuh substansi efektivitas dan efisiensi penggunaan anggaran negara.

Pendidikan dan amanat Konstitusi

Konstitusi Indonesia menempatkan pendidikan sebagai salah satu pilar utama pembangunan bangsa. Pasal 31 UUD 1945 secara tegas mengamanatkan negara untuk mengusahakan dan menyelenggarakan sistem pendidikan nasional serta mengalokasikan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD.

Tujuan akhirnya bukan sekadar menyediakan ruang belajar, tetapi mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan yang dimaksud tidak hanya bersifat akademik, melainkan juga mencakup pembentukan karakter, moralitas, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan daya saing global. Di sinilah muncul pertanyaan yang layak diajukan.

Ketika dunia pendidikan masih menghadapi berbagai persoalan mendasar, yakni kualitas guru yang belum merata, sarana pendidikan yang tertinggal, ketimpangan akses pendidikan, rendahnya kemampuan literasi dan numerasi, serta kesejahteraan tenaga pendidik yang belum optimal, apakah pengalokasian anggaran yang sangat besar untuk MBG merupakan pilihan paling tepat?                                             

Gizi penting, tapi bukan satu-satunya jawaban

Tidak dapat dipungkiri bahwa gizi berpengaruh terhadap kemampuan belajar anak. Namun kualitas pendidikan tidak ditentukan oleh faktor gizi semata.

Banyak negara berhasil membangun sumber daya manusia unggul karena fokus pada kualitas sistem pendidikan, penguasaan ilmu pengetahuan, penguatan budaya riset, dan peningkatan kompetensi guru. Gizi menjadi faktor pendukung, bukan satu-satunya instrumen pembangunan manusia.

Karena itu, jika MBG menghabiskan ruang fiskal yang sangat besar hingga berpotensi mengurangi efektivitas program pendidikan lainnya, maka evaluasi menjadi sebuah keniscayaan.

Pembangunan manusia memerlukan keseimbangan antara kebutuhan fisik dan kebutuhan intelektual. Tubuh yang sehat memang penting, tetapi kecerdasan, karakter, dan kualitas pendidikan tetap menjadi penentu utama kemajuan bangsa.

Risiko salah menentukan prioritas

Sejarah pembangunan di berbagai negara menunjukkan bahwa kesalahan memilih prioritas seringkali menghasilkan pemborosan sumber daya yang besar. Program yang populer secara politik belum tentu menjadi program yang paling efektif secara pembangunan.

Ketika orientasi kebijakan lebih banyak diarahkan pada program-program yang mudah dilihat dan dirasakan dalam jangka pendek, sementara investasi jangka panjang seperti peningkatan kualitas pendidikan terabaikan, maka bangsa manapun berisiko kehilangan momentum untuk menciptakan generasi yang benar-benar unggul.

Indonesia saat ini sedang menghadapi tantangan global yang sangat kompleks. Revolusi teknologi, kecerdasan buatan, persaingan ekonomi dunia, dan perubahan geopolitik menuntut hadirnya sumber daya manusia yang memiliki kemampuan berpikir kritis, inovatif, dan adaptif.

Tantangan tersebut tidak akan dapat dijawab hanya dengan program pemenuhan gizi. Sejatinya diperlukan transformasi pendidikan yang serius, terukur, dan berkelanjutan.

Tata kelola dan akuntabilitas

Persoalan lain yang tidak kalah penting adalah tata kelola program. Besarnya anggaran selalu berbanding lurus dengan besarnya risiko penyimpangan apabila pengawasan tidak berjalan optimal.

Munculnya berbagai persoalan administratif, dugaan ketidaksiapan pelaksanaan, hingga potensi penyalahgunaan anggaran harus menjadi alarm bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi menyeluruh.

Program sebesar MBG membutuhkan sistem pengawasan yang ketat, transparansi penggunaan anggaran, serta mekanisme pertanggungjawaban yang jelas.

Tanpa tata kelola yang baik, niat mulia sekalipun dapat berubah menjadi beban fiskal dan sumber masalah baru.

Penutup

Perdebatan mengenai MBG sejatinya bukan pertentangan antara kebutuhan gizi dan kebutuhan pendidikan. Keduanya sama-sama penting. Persoalan utamanya adalah bagaimana negara menentukan prioritas dan memastikan setiap anggaran yang dikeluarkan benar-benar menghasilkan manfaat optimal bagi masa depan bangsa.

Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan amanat Konstitusi yang tidak boleh dikalahkan oleh pertimbangan jangka pendek. Program pemenuhan gizi harus berjalan, tetapi tidak boleh mengorbankan investasi yang lebih fundamental dalam pembangunan manusia, yaitu pendidikan yang berkualitas.

Bangsa yang besar tidak hanya membutuhkan generasi yang sehat secara fisik, tetapi juga generasi yang cerdas, berkarakter, berintegritas, dan mampu menjawab tantangan zaman. Di situlah ukuran keberhasilan sebuah kebijakan publik seharusnya ditempatkan.

Zaenal Abidin Syuja’i adalah pemerhati sosial, pendidikan, dan keislaman.(Red)

 


JAKARTA, BX - Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia (SMSI), Firdaus didampingi Sekretaris Jenderal (Sekjend) SMSI Pusat Makali Kumar memberikan arahan strategis dan menyeluruh kepada seluruh pengurus serta anggota SMSI se Tanah Air. 

Pertemuan intensif yang berlangsung di kantor Sekretariat SMSI Pusat, Jakarta, pada Jumat (12/06/2026) ini membahas konstelasi politik nasional serta dampaknya terhadap masa depan industri pers di Indonesia.

​Dalam kesempatan tersebut, Firdaus menggunakan papan tulis untuk memetakan secara detail jaringan pengaruh politik, mulai dari geopolitik global, posisi tokoh-tokoh kunci nasional, hingga pola arus informasi dan pemberitaan negara. Langkah ini dilakukan guna memberikan pemahaman yang komprehensif bagi pengurus SMSI dalam menavigasi media siber di daerah masing-masing.

​"Sebagai organisasi media siber terbesar, kita harus jeli melihat ke mana arah angin perubahan bergerak. Pemetaan ini penting agar seluruh anggota SMSI di daerah tidak hanya menjadi penonton, melainkan mampu menjadi pemandu informasi yang sehat, objektif, dan tepercaya bagi masyarakat," ujar Firdaus di hadapan jajaran pengurus yang hadir.



​Firdaus juga menekankan pentingnya independensi, profesionalisme, serta ketajaman analisis media siber di bawah naungan SMSI. 

Menurutnya, lanskap media saat ini sangat dinamis. Sehingga pemilik media dan jurnalis dituntut memiliki sensitivitas tinggi terhadap isu-isu strategis, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Pertemuan tatap muka ini digelar sebagai langkah responsif SMSI Pusat dalam menyikapi dinamika nasional terkini. Melalui pemetaan tersebut, SMSI berkomitmen menjaga independensi serta meningkatkan kualitas jurnalisme anggotanya di seluruh daerah, sekaligus memastikan bahwa suara dari daerah tetap memiliki ruang yang kuat di kancah nasional.

​Jalannya arahan berlangsung interaktif. Firdaus secara runut mengurai poin-poin penting dari diagram pengaruh yang ia buat, dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama para fungsionaris pusat mengenai langkah taktis yang perlu diambil oleh pengurus SMSI di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.

Arahan ini diharapkan menjadi panduan bagi ribuan media siber yang tergabung dalam SMSI untuk tetap solid, adaptif, dan terus menjaga marwah jurnalisme yang berintegritas di tengah dinamika bangsa.(Red)

Agus Zulkarnain, Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Cilegon.



CILEGON, BX – Balai Pelatihan Sumber Daya Manusia Komunikasi dan Digital (BLSDM Komdigi) Bandung bekerja sama dengan Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Cilegon menyelenggarakan Pelatihan Aparatur Digital dengan tema "Pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) di Pemerintahan" yang diikuti puluhan pegawai di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon.

Pelatihan yang dilaksanakan secara virtual melalui Zoom Meeting tersebut berlangsung selama empat hari, mulai Selasa, 2 Juni 2026 hingga Jumat, 5 Juni 2026. Kegiatan secara resmi dibuka oleh Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Cilegon, Agus Zulkarnain, pada Selasa, 2 Juni 2026.



Dalam sambutannya, Plt. Kepala BLSDM Komdigi Bandung, Nur Azizah, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota (Pemkot) Cilegon atas kolaborasi yang terjalin sehingga pelatihan tersebut dapat terlaksana dengan baik. 

“Terima kasih kepada Dinas Kominfo Kota Cilegon atas kolaborasinya sehingga pelaksanaan Pelatihan Aparatur Digital dengan tema Pemanfaatan AI di Pemerintahan ini bisa terselenggara. Teknologi digital saat ini berkembang sangat pesat dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita, termasuk Artificial Intelligence yang perkembangannya berlangsung sangat cepat,” ujar Nur Azizah yang biasa dipanggil Zizi ini.

Zizi menegaskan bahwa penguasaan teknologi AI menjadi kebutuhan penting bagi aparatur pemerintah agar tidak tertinggal dalam menghadapi perkembangan zaman. Menurutnya, AI mampu membantu mempercepat pekerjaan dan meningkatkan produktivitas sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas pelayanan publik. 

“Jika kita tidak menggunakan AI, kita akan tertinggal dan menjadi tidak relevan. Bahkan ada ungkapan yang mengatakan bahwa manusia yang tidak menggunakan AI akan tergantikan oleh manusia yang menggunakan AI. Karena itu, pelatihan ini menjadi salah satu upaya untuk menutup kesenjangan kemampuan digital agar aparatur dapat berkembang lebih cepat dan memberikan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa selama empat hari pelatihan, para peserta akan mempelajari berbagai materi mulai dari konsep dasar AI, etika pemanfaatan AI, penggunaan AI Chatbot, hingga penerapan teknologi AI untuk mendukung pekerjaan sehari-hari aparatur pemerintah. “Harapan kami, setelah mengikuti pelatihan ini, para peserta dapat memanfaatkan AI secara optimal dalam pekerjaan mereka sehingga pelayanan publik di Kota Cilegon menjadi semakin baik,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Komunikasi Informatika Statistik dan Persandian Kota Cilegon, Agus Zulkarnain yang membuka acara ini menyampaikan bahwa perkembangan teknologi digital yang sangat cepat telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara pemerintah bekerja dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Teknologi digital saat ini berkembang sangat cepat dan telah mengubah berbagai aspek kehidupan, termasuk cara kerja pemerintah dan melayani masyarakat. Salah satu teknologi yang berkembang pesat dan memberikan dampak signifikan adalah Artificial Intelligence atau Kecerdasan Artifisial,” ungkapnya.

Menurut Agus, AI membuka peluang besar dalam meningkatkan produktivitas kerja aparatur melalui berbagai pemanfaatan seperti analisis data, penyusunan dokumen, pengelolaan informasi, hingga mendukung proses pengambilan keputusan yang lebih efektif dan berbasis data. 

“Karena itu, aparatur pemerintah perlu memahami dan menguasai pemanfaatan teknologi ini agar mampu menjawab tantangan birokrasi modern yang semakin dinamis. Pelatihan ini merupakan bagian dari dukungan Kementerian Komdigi melalui BLSDM Komdigi Bandung sekaligus wujud komitmen Pemerintah Kota Cilegon dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi digital ASN,” jelasnya.

Agus berharap para peserta dapat mengikuti seluruh rangkaian pelatihan dengan sungguh-sungguh serta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meningkatkan kemampuan yang dapat diterapkan langsung di lingkungan kerja masing-masing.

“Pemanfaatan teknologi digital memerlukan perubahan pola pikir, budaya kerja, dan kemampuan beradaptasi terhadap inovasi. Aparatur yang mampu memanfaatkan teknologi digital dan AI secara efektif akan menjadi penggerak utama terwujudnya pemerintahan yang lebih responsif, efisien anggaran, transparan, dan inovatif,” tuturnya.

Ia optimistis pelatihan tersebut akan melahirkan aparatur-aparatur digital yang kompeten, kreatif, dan siap menjadi agen perubahan dalam mendukung visi pembangunan Kota Cilegon yang maju, sejahtera, dan berkelanjutan. 

“Melalui pelatihan ini saya optimistis akan lahir aparatur-aparatur digital yang semakin kompeten, kreatif, dan siap menjadi agen perubahan dalam mendukung visi pembangunan Kota Cilegon yang Maju, Sejahtera, dan Berkelanjutan,” tegasnya.

Pada kesempatan tersebut, Agus juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan, khususnya BLSDM Komdigi Bandung yang telah memberikan kesempatan kepada aparatur Pemerintah Kota Cilegon untuk meningkatkan kompetensi di bidang teknologi digital dan kecerdasan artifisial.

Salah satu peserta pelatihan, Abdurrahman Dafá Alsyauqi, menilai bahwa pelaksanaan Pelatihan Aparatur Digital dengan tema Pemanfaatan AI di Pemerintahan sangat relevan dengan kebutuhan aparatur saat ini. 

"Menurut saya, pelaksanaan pelatihan pemanfaatan AI di pemerintahan ini sangat penting karena AI saat ini sangat membantu pegawai ASN untuk lebih melek terhadap teknologi dan tidak tertinggal dari perkembangan zaman. Teknologi AI dapat menjadi alat yang mendukung produktivitas dan efektivitas kerja apabila dimanfaatkan dengan baik," ujarnya.

Namun demikian, ia menilai tantangan terbesar dalam pemanfaatan AI adalah bagaimana aparatur dapat menggunakan teknologi tersebut secara bijaksana tanpa bergantung sepenuhnya pada AI dalam menjalankan tugas-tugas pemerintahan.

"Tantangan terbesarnya adalah bagaimana kita sebagai ASN dapat memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan tanpa menjadi ketergantungan. Selain itu, penggunaan AI harus dilakukan secara bijak agar data dan informasi pribadi maupun kedinasan tetap aman dan terjaga dengan baik," tambahnya

Dafa berharap pelatihan yang diselenggarakan oleh BLSDM Komdigi Bandung bersama Diskominfo SP Kota Cilegon ini dapat meningkatkan kemampuan digital aparatur sekaligus mendorong pemanfaatan AI yang bertanggung jawab di lingkungan Pemerintah Kota Cilegon. "Harapan saya, melalui pelatihan ini pegawai ASN Kota Cilegon dapat memanfaatkan AI dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaannya secara optimal, tepat guna, dan tetap mengedepankan etika serta keamanan informasi," pungkasnya.(Red)