CILEGON, BX - Muhamad Ibrahim Aswadi (MIA), tokoh masyarakat Cilegon yang konsen terhadap isu lingkungan, gelisah melihat perubahan wajah kotanya. “Cilegon dulu dikenal sebagai kota santri. Kini ia menjelma menjadi kota industri,” ujarnya dalam Diskusi Budaya #4 yang digelar di Kafe Luang Persona Ciwaduk, Jumat Malam 26 September 2024. 

Diskusi Budaya #4 ini menghadirkan sederet narasumber, di antaranya Cholis dari Walhi Jakarta, Dani Setiawan dari Ridzoma Indonesia, Ibnu PS Megananda sebagai pelaku budaya Banten, serta Mang Pram yang menjadi moderator diskusi.

Bagi lelaki yang akrab disapa MIA, ia menilai adanya pergeseran itu bukan hanya soal bentang fisik, tapi juga perubahan cara hidup masyarakat Cilegon yang sangat kompleks dan mengancam kepunahan budaya Cilegon. 

MIA menilai, arus investasi besar yang masuk ke Cilegon tidak menghadirkan kesejahteraan nyata bagi warganya. “Industri berdiri megah, tapi masyarakat lokal tetap sulit mendapat pekerjaan. Banyak yang justru jadi penonton di tanah sendiri,” katanya, menceritakan kegelisahan saat menjadi anggota DPRD Kota Cilegon. 

Ia mengingatkan, pembangunan yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi sering mengabaikan dimensi sosial dan ekologis. Hilangnya ruang hijau, abrasi pantai, hingga nelayan yang tak lagi melaut adalah tanda-tanda bahwa masyarakat kehilangan penopang hidupnya.

Kegelisahan MIA menjadi salah satu sorotan utama dalam diskusi yang mempertemukan pandangan para aktivis dan pemerhati lingkungan mengenai masa depan ekosistem Cilegon. 

“Pembangunan sebesar apa pun, jika masyarakatnya tidak sejahtera, sulit cari kerja dan lingkungannya rusak, untuk siapa sebenarnya kota ini dibangun?” ungkap MIA. 

Sementara itu, Inisiator Diskusi Budaya #4 Indra Kusuma menjelaskan, ruang diskusi dibangun agar masyarakat memiliki wadah menyampaikan pikiran dan gagasan secara terbuka. 

“Industri di Cilegon terlalu besar untuk tidak dikritisi bersama. Dampak lingkungannya nyata, dan kita perlu mengkajinya secara serius,” katanya. 

Menurut Indra, budaya bukan hanya urusan seni, melainkan juga menyangkut cara masyarakat menjaga ruang hidup. “Forum ini adalah ikhtiar agar masyarakat tak hanya jadi objek pembangunan, tapi juga subjek yang bisa bertanya dan menawarkan solusi.”

Diskusi berlangsung dalam suasana cair namun penuh kritik. Para pembicara menegaskan, kerusakan ekosistem di Cilegon lahir dari paradigma pembangunan yang menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai tolok ukur tunggal. Cerobong pabrik dan jalan lingkar dijadikan simbol keberhasilan, sementara sawah yang berubah menjadi perumahan, abrasi pesisir, dan nelayan yang kehilangan lautnya kerap disebut sekadar “biaya sampingan.”
Axact

BantenXpose.com

BantenXpose.com merupakan media informasi online seputar banten, nasional dan internasional.

Post A Comment: