Peran Ayah Dalam Kisah drg. Rully Kusumawardhany: Membentuk Generasi Masa Depan yang Kuat, Berintegritas dan Karakter Sejak Dini

 


CILEGON, BX – Program Gerakan ayah mengambil Rapor yang diinisiasi Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan berlaku secara nasional mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan. Salah satunya datang dari drg. Rully Kusumawardhany, M.M., yang membagikan kisah inspiratif masa kecilnya tentang peran ayah dan ibu dalam membentuk karakter, kecintaan belajar, serta integritas sejak usia dini.

Dalam pernyataannya, drg. Rully menuturkan bahwa ia tumbuh dalam keluarga yang memiliki pola asuh kompak dan konsisten. Ayah dan ibunya memiliki prinsip yang sama dalam mendidik anak. 

“Jika ibu melarang sesuatu, ayah juga akan mengatakan hal yang sama. Hal sederhana ini membentuk disiplin dan kejelasan nilai dalam keluarga,” ungkapnya kepada redaksi, Jum’at (19/12/2025).

Sejak taman kanak-kanak (TK), drg. Rully sudah mampu membaca. Bacaan masa kecilnya bukan sekadar hiburan, melainkan majalah edukatif seperti Bobo dan surat kabar Kompas. Kecintaannya pada membaca tumbuh karena peran ayah yang rajin membelikan buku, membacakan cerita sebelum tidur, serta berdiskusi tentang isi bacaan.

“Setiap cerita yang dibacakan selalu mengandung teladan, seperti kisah nabi dan rasul, pahlawan bangsa, dan cerita bermakna lainnya. Ayah juga selalu bertanya apa pelajaran yang saya dapatkan dari buku yang saya baca,” jelasnya.

Tak hanya literasi, pendidikan numerasi pun diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran matematika diajarkan dengan contoh konkret, seperti berhitung cepat atau mencongak, bahkan dilakukan secara santai sebelum tidur. Pola pendidikan tersebut membuat drg. Rully tumbuh menjadi pribadi yang menyukai membaca dan matematika hingga dewasa.

Menurutnya, seluruh kebijakan dan aturan dalam pendidikan idealnya disusun dalam kondisi normal, dengan tetap menjunjung nilai integritas. Pendidikan tidak hanya ditujukan bagi anak, tetapi juga bagi orang tua dan pendidik. “Kita semua harus terus belajar agar mampu mengikuti perubahan zaman, namun tetap memiliki prinsip yang relevan sepanjang masa,” tegasnya.

Lebih lanjut, drg. Rully juga memberikan pesan penguatan bagi anak-anak yatim atau yang dibesarkan oleh ibu single parent. Ia menekankan bahwa pendidikan sikap mental dapat merujuk pada teladan Rasulullah SAW, yang telah mengalami berbagai ujian hidup sejak usia dini.

“Rasulullah adalah contoh nyata ketangguhan. Beliau yatim sejak kecil, berdagang di usia remaja, hingga menghadapi ancaman nyawa saat menyebarkan Islam. Maka tidak perlu berkecil hati, karena ujian hidup bukan alasan untuk menyerah,” ucapnya.

Bagi keluarga yang menghadapi keterbatasan dalam menjalankan himbauan tertentu, komunikasi dan koordinasi dengan pihak sekolah menjadi kunci. Prinsip utama pendidikan, kata dia, adalah melahirkan generasi yang tangguh, beradab, dan berakhlak mulia, imbuhnya.


drg. Rully menyampaikan dalam menutup kisahnya, semangat dan optimisme kepada seluruh orang tua dan anak-anak Indonesia. 


“Pendidikan adalah proses bersama. Dengan kebersamaan, keteladanan, dan komunikasi yang baik, kita bisa membentuk generasi masa depan yang kuat dan berintegritas,” pungkasnya.(Red)

Axact

BantenXpose.com

BantenXpose.com merupakan media informasi online seputar banten, nasional dan internasional.

Post A Comment: