Badar dan Ramadhan: Ketika Lapar Menjadi Cahaya Kemenangan

 

Foto: Ustadz Arifin Albantani


Oleh Arifin Al Bantani


CILEGON BX - Di padang pasir Badar, sejarah pernah bergetar. Di bulan Ramadhan, langit pernah begitu dekat dengan bumi. Pada tahun kedua Hijriah, saat ayat tentang puasa turun menenangkan jiwa-jiwa beriman “Kutiba ‘alaikumush shiyam.” Allah tidak hanya memerintahkan lapar, tetapi sedang membangun manusia. 

Pada bulan yang sama, terjadilah Perang Badar, hari yang oleh Al-Qur’an dinamai yaumul furqan hari ketika kebenaran dan kebatilan dipisahkan dengan cahaya yang tak terbantahkan. Seolah Allah hendak mengajarkan satu rahasia besar: sebelum kemenangan diturunkan, jiwa harus terlebih dahulu ditundukkan.

Badar bukan sekadar pertempuran antara 313 dan 1.000. Ia adalah dialog antara keterbatasan manusia dan keluasan pertolongan Tuhan. Pasukan kecil itu tidak hanya membawa pedang, tetapi membawa perut yang sedang belajar sabar, hati yang sedang dilatih ikhlas, dan jiwa yang telah dibasuh oleh malam-malam Ramadhan.

Rasulullah ﷺ—Muhammad—berdiri di tengah padang pasir, mengangkat tangan dengan doa yang gemetar oleh harap. Di sana, kepemimpinan tidak lahir dari ambisi, tetapi dari ketundukan. Musyawarah dilakukan, strategi disusun, barisan dirapikan. Langit dimohonkan, bumi dipersiapkan. Inilah tawakal yang hidup: bukan pasrah tanpa ikhtiar, melainkan ikhtiar yang diselimuti iman. Puasa dan Badar adalah dua wajah dari satu pendidikan Ilahi.

Dalam puasa, manusia berperang melawan dirinya sendiri melawan dahaga, melawan amarah, melawan keinginan untuk bebas tanpa batas. Dalam Badar, peperangan itu menjelma nyata. Mereka yang mampu menahan diri dari yang halal karena Allah, akan lebih kokoh menahan rasa takut demi Allah.

Puasa melatih sunyi. Badar menuntut berani. Puasa menundukkan ego. Badar menundukkan musuh. Dan di antara keduanya, ada satu benang merah: kejujuran hati.

Ramadhan tidak turun pada masa nyaman. Ia hadir ketika umat masih rapuh, ketika tekanan datang dari segala arah. Seakan Allah ingin menegaskan bahwa spiritualitas bukan pelarian dari realitas, melainkan fondasi untuk menaklukkannya. Lapar bukan) pelemahan, tetapi penajaman. Dahaga bukan penderitaan, tetapi penyucian.

Badar mengajarkan bahwa jumlah tidak selalu menentukan. Dunia menghitung dengan angka; Allah menilai dengan iman. Dunia melihat persenjataan, Allah melihat keteguhan. Dunia menimbang peluang, Allah menurunkan pertolongan.

Dan bagi kita hari ini, Badar bukan hanya cerita lama yang dibacakan di mimbar-mimbar. Ia adalah metafora kehidupan. Setiap kita memiliki “Badar” masing-masing: krisis yang tak terduga, tekanan yang menyesakkan, ketimpangan antara kemampuan dan tantangan. Kita merasa hanya memiliki “313” daya, sementara masalah datang seribu jumlahnya.

Namun Ramadhan selalu kembali setiap tahun, seperti pesan yang tak pernah usang: kemenangan di luar lahir dari kemenangan di dalam. Jika kita mampu menertibkan hati saat lapar, kita akan mampu menertibkan langkah saat genting. Jika kita mampu jujur saat tak ada yang melihat, kita akan teguh saat dunia menekan. Jika kita mampu bersandar kepada Allah dalam sunyi, kita akan kokoh berdiri di tengah badai.

Badar adalah cahaya sejarah. Ramadhan adalah cahaya jiwa. Dan ketika keduanya bertemu, lahirlah pelajaran abadi: bahwa pertolongan Allah turun bukan kepada yang paling banyak, tetapi kepada yang paling teguh.

Maka, sebelum kita ingin menang atas dunia, menangkanlah diri sendiri. Sebelum kita berharap pertolongan turun, luruskanlah niat yang tersembunyi.

Karena di antara lapar dan doa, di antara pasir dan air mata, sejarah pernah membuktikan: iman yang jernih mampu mengubah ketimpangan menjadi kemuliaan.(*)

Next
This is the most recent post.
Previous
Posting Lama
Axact

BantenXpose.com

BantenXpose.com merupakan media informasi online seputar banten, nasional dan internasional.

Post A Comment: